Jumat, 20 November 2015

BELAJAR SALAH;TAK GENDONG



 

Belajar dari (su)Urip Ariyanto
Yockie suprajogo
“ Tak gendong kemana-mana… tak gendong kemana… enak dong mantep dong dari pada kamu naek pesawat…hayo mau kemana?? “
Lirik lagu ini sudah tak asing lagi ditelinga kita, apalagi dengan sosok penyanyinya. Mbah Surip merupakan sosok fenomenal dengan gaya nyentrik, berambut gimbal, dan dandanan ala penyanyi reggae. Kehadiran Mbah Surip telah membuat banyak kisah yang perlu menjadi renungan buat kita, khususnya pemuda Indonesia.
Mbah Surip dilahirnya dengan nama Urip Ariyanto di Mojokerto, 5 Mei 1949 yang berusia 60 tahun. Mbah Surip senang sekali menimba ilmu mulai dari ijazah SD, SMP, ST, SMEA, STM, Drs, Insinyur, dan MBA. Dulu Mbah Surip pernah merasakan sebagai engineer di pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan pernah bekerja di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California. Inilah penuturan dari Mbah Surip.
Ternyata lagu Tak Gendong sudah diciptakan 26 tahun yang lalu saat beliau bekerja di Amerika Sekirat. Lirik yang sederhana, akrab ditelinga, dan mudah dicerna ini memiliki arti yang dalam, yaitu berisi pembelajaran bagi kita semua, di mana manusia belajar dari salah menjadi benar. Inilah cuplikannya…
“Biasanya, yang dipelajari adalah sesuatu yang benar. Kalau itu, salah menjadi benar.”
“Tafsir sederhananya, Belajar salah itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik, galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli penumpangnya, entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar salah,”
“Mungkin dulu bikin begitu, sekarang direnungkan lagi. Dibuat waktu ngebor minyak, tepatnya di California,”
Begitupun dengan berorganisasi kita harus belajar salah , salah jika meninggalkan amanah, salah jika kita mementingkan ego masing-masing, salah jika kita menggeser definisi organisasi menjadi komunitas, sebab kebenaran akan muncul dari kesalahan. Belajar salah bukan berarti kita tidak benar, bukankah kita sering mencari dan mudah mendapat kesalahan orang lain, sedang kesalahan kita sendiri tidak kelihatan. Disitu lah kita harus belajar salah agar tidah menyahlahkan sesuatu. Terus bukankah salah lebih baik dari benar yang salah?
DARI AbuHurairah Ra., bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, ‘Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak’, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim).
Tanks to suR.I.P

1 komentar: