Belajar dari (su)Urip Ariyanto
Yockie suprajogo
“ Tak
gendong kemana-mana… tak gendong kemana… enak dong mantep dong dari pada kamu
naek pesawat…hayo mau kemana?? “
Lirik lagu ini sudah
tak asing lagi ditelinga kita, apalagi dengan sosok penyanyinya. Mbah Surip
merupakan sosok fenomenal dengan gaya nyentrik, berambut gimbal, dan dandanan
ala penyanyi reggae. Kehadiran Mbah Surip telah membuat banyak kisah yang perlu
menjadi renungan buat kita, khususnya pemuda Indonesia.
Mbah Surip
dilahirnya dengan nama Urip Ariyanto di Mojokerto, 5 Mei 1949 yang berusia 60
tahun. Mbah Surip senang sekali menimba ilmu mulai dari ijazah SD, SMP, ST,
SMEA, STM, Drs, Insinyur, dan MBA. Dulu Mbah Surip pernah merasakan sebagai engineer
di pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan pernah bekerja di luar negeri
seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California. Inilah penuturan dari Mbah
Surip.
Ternyata lagu Tak
Gendong sudah diciptakan 26 tahun yang lalu saat beliau bekerja di Amerika
Sekirat. Lirik yang sederhana, akrab ditelinga, dan mudah dicerna ini memiliki
arti yang dalam, yaitu berisi pembelajaran bagi kita semua, di mana manusia
belajar dari salah menjadi benar. Inilah cuplikannya…
“Biasanya,
yang dipelajari adalah sesuatu yang benar. Kalau itu, salah menjadi benar.”
“Tafsir
sederhananya, Belajar salah itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik,
galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli penumpangnya, entah itu
copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar
salah,”
“Mungkin
dulu bikin begitu, sekarang direnungkan lagi. Dibuat waktu ngebor minyak,
tepatnya di California,”
Begitupun dengan berorganisasi kita harus belajar salah , salah jika
meninggalkan amanah, salah jika kita mementingkan ego masing-masing, salah jika
kita menggeser definisi organisasi menjadi komunitas, sebab kebenaran akan
muncul dari kesalahan. Belajar salah bukan berarti kita tidak benar, bukankah
kita sering mencari dan mudah mendapat kesalahan orang lain, sedang kesalahan
kita sendiri tidak kelihatan. Disitu lah kita harus belajar salah agar tidah
menyahlahkan sesuatu. Terus bukankah salah lebih baik dari benar yang salah?
DARI AbuHurairah Ra., bahwasanya Rasullullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, ‘Orang
banyak (sekarang ini) sudah rusak’, maka orang yang berkata itu sendiri yang
paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim).
Tanks to suR.I.P






Ayok..!! Aku tak gendong sampai gondrong
BalasHapus