Sabtu, 21 November 2015

Ngopas - Ngoling Revolusi



SAHABAT ANSYORI
Biro Minat dan Bakat Revolusi


Sampai saat ini mitos tentang seorang aktivis mahasiswa yang sakau kopi saat diskusi, santai maupun rapat belum terbantahkan. Anggapan yang turun temurun dianut oleh para aktivis dari berbagai golongan ini sudah bertahan lama dan diwariskan kepada penerus mereka di kampus dan di organisasinya. Saya teringat ketika saat berdiskusi dengan sahabat-sahabat di Kayon Caffee, suasana ditempat tersebut dipenuhi oleh kalangan mahasiswa, ada yang seniman, Aktivis, ada pula yang pacaran, main domino, catur, ada juga yang mengatur strategi politik. Mengerjakan tugas, ada pula yang sekedar duduk sambil Online dengan memanfaatkan fasilitas wifi dan masih ada banyak hal yang dilakukan oleh para mahasiswa yang ngopi disana.



Saya sendiri penikmat kopi hitam. Tidak peduli dengan rasanya, yang penting minum kopi. Ada juga sahabat-sahabat saya yang lebih suka kopi instan dari berbagai macam brand. Selera kopi sudah menjadi tradisi, bukan lagi mitos. Kalangan muda ini seakan tidak punya inspirasi ketika tidak minum kopi.



Terlepas dari efek negatif dari Kopi, saya lebih memilih untuk menuliskan efek sosial dari kopi. Mengapa? Dari pengalaman saya selama jadi mahasiswa yang berinteraksi dengan mahasiswa lain dari berbagai jurusan, agama, golongan, ideologi, aktivitas dan sebagainya, saya menemukan hal unik dan patut dibicarakan.



Salah satu pengalaman saya yaitu ketika berdiskusi dengan sahabat-sahabat PMII. Saat itu di salah satu warung kopi yang letaknya tak jauh dari kost saya didaerah tlogomas, ya (Angkringan) namanya Kami diskusi masalah malam seribu lilin Revolusi refleksi Hari Pahlawan Nasional. dengan maksud untuk mengenang para pahlawan Nasional, bagaikan Lilin yang Rela dirirnya terbakar demi memberikan cahaya ditengah-tengah kegelapan. sama seperti para pahlawan dulu 10 November yang berjuang disurabaya  demi cita-cita besar Bangsa dan Negaranya. Alhasil cukup memuaskan. Ketika itu kami hanya duduk saja sambil lalu menikmati kopi. Dan muncul ide-ide cemerlang dari beberapa Sahabat untuk menggelar Malam Seribu Lilin untuk para Pahlawan yang berjuang atas bangsanya.



Dari ngopi-ngopi tersebut sahabat-sahabat merumuskan yang pertama bahwa, dengan duduk minum kopi bersama, kita mahasiswa bisa berbicara dengan orang lain dengan rasa persaudaraan. Rasa persaudaraan ini muncul karena efek emosional yang saling menyatu. Kita duduk berhadapan, minum kopi bersama, dilesehan sederhana, atas dasar ingin mengetahui sesuatu dari orang lain. Dengan media berupa (kopi) dan bertatapan muka, kontak mata, dan fokus mendengar orang lain bicara, melalui kejadian itulah terjadi kontak emosional antara saya, kamu, dia, dan mereka. Kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, kita bisa melihat kejujuran orang lain, kita bisa mengerti jalan pikir orang lain. Inilah yang dinamakan proses telepati sederhana.



Yang kedua, melalui minum kopi bersama, kita dibentuk rasa kepedulian terhadap orang lain. Kepedulian ini diwujudkan melalui berbagai hal. Mulai dari persaaan ingin menanggung semua kopi yang diminum sampai pada inisiatif untuk meracik kopi untuk semua teman. Terkadang kepedulian ini juga diwujudkan dengan inisiatif untuk mencuci gelas sehabis minum kopi bersama.



Hal ketiga yang menurut saya paling penting adalah, melalui minum kopi bersama kontak sosial yang hebat terjadi. Kebiasaan saya dan beberap teman adalah minum kopi dengan gelas yang sama. Jadi satu gelas kopi untuk beberapa orang minum. Saya pertama kali meraksan hal yang luar biasa ini ketika pertama kali berdiskusi dengan teman-teman Imaminsel sewaktu masih semester dua. Saya merasa ini adalah metode yang tepat untuk membangun komunikasi lebih dalam dengan teman-teman lain. Minum kopi denga gelas bersama mulai saya tularkan keteman-teman lain. Dan hasilnya sangat memuaskan. Serasa lengkap diskusi kita jika kontak sosial terus menerus terjadi selama proses diskusi.



Saya rasa hal ini wajib ditularkan, bahkan diwariskan kepada para Mahasiswa sebagai agen of Sosial. Karena mengingat bahwa sulitnya mahasiswa hari ini tengah dilanda oleh penyakita yang bernama Hedonisme. Akhirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Revolusi sadar sebagai mahasiswa betapa pentinga kita duduk bersama disalah satu warung kopi yang dilihat sangat banyak di kota Malang. dan dari sinilah sahabat-sahabat Pengurus Rayon membentuk salah satu Komunitas Ngopi. dan Sahabat Rifqan Achmad Zarnoeji selaku ketua PMII di Fakultas Ekonomi memberi nama komunitas ini dengan "Ngoling - Ngopas (Ngopi Keliling - Ngopi Cerdas)" Asyiknya ngopi berpindah-pindah tempat dari tempat ngopi yang satu ke yang lainnya. Dengan tujuan sahabat-sahabat mengetahui dimana saja tempat-tempat ngopi mahasiswa dengan cita rasa yang berbeda. yang tentunya ada di wilayah Kota Malang sebagai Kota Pendidikan. Dan tentunya tidak berangkat dengan Otak kosong dan akan selalu ada tema-tema menarik untuk di diskusikan. Selamat berkarya

*Tulisan ini terinspirasi dari kesadaran dan sebuah buku yang berjudul  “Filosofi KOPI”
**Penulis adalah Pengurus Rayon Revolusi di Biro Minat dan Bakat 2015-2016,
angkatan 2014 Mahasiswa Manajemen.

2 komentar:

  1. terus lanjutkan, jngan pernah sepi oleh karya. melalui karya manusia dapat di kenang sepanjang masa... jangan takut, jangan ragu, cinta ini (PMII) milik kita.

    BalasHapus
  2. Orang yang di katakan sukses adalah orang-orang yang menemukan/menciptakan sebuah karya sendiri, bukan dari tiruan orang lain.
    #salam pergerakan "tetap tangan terkepal dan maju kemuka"

    BalasHapus