SAHABAT ANSYORI
Biro Minat dan Bakat
Revolusi
Sampai saat ini mitos
tentang seorang aktivis mahasiswa yang sakau kopi saat diskusi, santai maupun
rapat belum terbantahkan. Anggapan yang turun temurun dianut oleh para aktivis
dari berbagai golongan ini sudah bertahan lama dan diwariskan kepada penerus
mereka di kampus dan di organisasinya. Saya teringat ketika saat berdiskusi
dengan sahabat-sahabat di Kayon Caffee, suasana ditempat tersebut dipenuhi oleh
kalangan mahasiswa, ada yang seniman, Aktivis, ada pula yang pacaran, main
domino, catur, ada juga yang mengatur strategi politik. Mengerjakan tugas, ada
pula yang sekedar duduk sambil Online dengan memanfaatkan fasilitas wifi dan masih ada banyak hal yang
dilakukan oleh para mahasiswa yang ngopi disana.
Saya sendiri penikmat
kopi hitam. Tidak peduli dengan rasanya, yang penting minum kopi. Ada juga
sahabat-sahabat saya yang lebih suka kopi instan dari berbagai macam brand.
Selera kopi sudah menjadi tradisi, bukan lagi mitos. Kalangan muda ini seakan
tidak punya inspirasi ketika tidak minum kopi.
Terlepas dari efek
negatif dari Kopi, saya lebih memilih untuk menuliskan efek sosial dari kopi.
Mengapa? Dari pengalaman saya selama jadi mahasiswa yang berinteraksi dengan
mahasiswa lain dari berbagai jurusan, agama, golongan, ideologi, aktivitas dan
sebagainya, saya menemukan hal unik dan patut dibicarakan.
Salah satu pengalaman
saya yaitu ketika berdiskusi dengan sahabat-sahabat PMII. Saat itu di salah
satu warung kopi yang letaknya tak jauh dari kost saya didaerah tlogomas, ya
(Angkringan) namanya Kami diskusi masalah malam seribu lilin Revolusi refleksi
Hari Pahlawan Nasional. dengan maksud untuk mengenang para pahlawan Nasional,
bagaikan Lilin yang Rela dirirnya terbakar demi memberikan cahaya ditengah-tengah
kegelapan. sama seperti para pahlawan dulu 10
November yang berjuang disurabaya demi cita-cita besar Bangsa dan
Negaranya. Alhasil cukup memuaskan. Ketika itu kami hanya duduk saja sambil
lalu menikmati kopi. Dan muncul ide-ide cemerlang dari beberapa Sahabat untuk
menggelar Malam Seribu Lilin untuk para Pahlawan yang berjuang atas bangsanya.
Dari ngopi-ngopi
tersebut sahabat-sahabat merumuskan yang pertama bahwa, dengan duduk minum kopi
bersama, kita mahasiswa bisa berbicara dengan orang lain dengan rasa
persaudaraan. Rasa persaudaraan ini muncul karena efek emosional yang saling
menyatu. Kita duduk berhadapan, minum kopi bersama, dilesehan sederhana, atas
dasar ingin mengetahui sesuatu dari orang lain. Dengan media berupa (kopi) dan
bertatapan muka, kontak mata, dan fokus mendengar orang lain bicara, melalui
kejadian itulah terjadi kontak emosional antara saya, kamu, dia, dan mereka.
Kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, kita bisa melihat kejujuran
orang lain, kita bisa mengerti jalan pikir orang lain. Inilah yang dinamakan
proses telepati sederhana.
Yang kedua, melalui
minum kopi bersama, kita dibentuk rasa kepedulian terhadap orang lain.
Kepedulian ini diwujudkan melalui berbagai hal. Mulai dari persaaan ingin
menanggung semua kopi yang diminum sampai pada inisiatif untuk meracik kopi
untuk semua teman. Terkadang kepedulian ini juga diwujudkan dengan inisiatif
untuk mencuci gelas sehabis minum kopi bersama.
Hal ketiga yang
menurut saya paling penting adalah, melalui minum kopi bersama kontak sosial
yang hebat terjadi. Kebiasaan saya dan beberap teman adalah minum kopi dengan
gelas yang sama. Jadi satu gelas kopi untuk beberapa orang minum. Saya pertama
kali meraksan hal yang luar biasa ini ketika pertama kali berdiskusi dengan
teman-teman Imaminsel sewaktu masih semester dua. Saya merasa ini adalah metode
yang tepat untuk membangun komunikasi lebih dalam dengan teman-teman lain.
Minum kopi denga gelas bersama mulai saya tularkan keteman-teman lain. Dan
hasilnya sangat memuaskan. Serasa lengkap diskusi kita jika kontak sosial terus
menerus terjadi selama proses diskusi.
Saya rasa hal ini
wajib ditularkan, bahkan diwariskan kepada para Mahasiswa sebagai agen of
Sosial. Karena mengingat bahwa sulitnya mahasiswa hari ini tengah dilanda oleh
penyakita yang bernama Hedonisme. Akhirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
Rayon Revolusi sadar sebagai mahasiswa betapa pentinga kita duduk bersama
disalah satu warung kopi yang dilihat sangat banyak di kota Malang. dan dari
sinilah sahabat-sahabat Pengurus Rayon membentuk salah satu Komunitas Ngopi.
dan Sahabat Rifqan Achmad Zarnoeji selaku ketua PMII di Fakultas Ekonomi
memberi nama komunitas ini dengan "Ngoling - Ngopas (Ngopi Keliling -
Ngopi Cerdas)" Asyiknya ngopi berpindah-pindah tempat dari tempat ngopi
yang satu ke yang lainnya. Dengan tujuan sahabat-sahabat mengetahui dimana saja
tempat-tempat ngopi mahasiswa dengan cita rasa yang berbeda. yang tentunya ada
di wilayah Kota Malang sebagai Kota Pendidikan. Dan tentunya tidak berangkat
dengan Otak kosong dan akan selalu ada tema-tema menarik untuk di diskusikan.
Selamat berkarya
*Tulisan
ini terinspirasi dari kesadaran dan sebuah buku yang berjudul “Filosofi
KOPI”
**Penulis adalah Pengurus Rayon Revolusi
di Biro Minat dan Bakat 2015-2016,
angkatan 2014 Mahasiswa Manajemen.







terus lanjutkan, jngan pernah sepi oleh karya. melalui karya manusia dapat di kenang sepanjang masa... jangan takut, jangan ragu, cinta ini (PMII) milik kita.
BalasHapusOrang yang di katakan sukses adalah orang-orang yang menemukan/menciptakan sebuah karya sendiri, bukan dari tiruan orang lain.
BalasHapus#salam pergerakan "tetap tangan terkepal dan maju kemuka"