Selasa, 29 Desember 2015

Kicau kepemimpinan



Jika tugas pemimpin itu di antaranya adalah menghidupkan, maka pemimpin itu sendiri harus memiliki kekuatan lebih dibanding mereka yang sedang dipimpinnya. Tanpa kelebihan yang ada pada dirinya, maka tidak akan mungkin berhasil menunaikan tugas kepemimpinannya. Tugas menghidupkan maka dirinya sendiri harus hidup terlebih dahulu.


Pemimpin dituntut mampu menghidupkan pikiran atau nalar orang yang sedang dipimpinnya, menghidupkan hati, semangat dan atau kemauannya. Pekerjaan itu kadang mudah, akan tetapi kadang juga amat sulit. Disebut mudah manakala pemimpin itu diketahui memiliki ketulusan, integritas yang tinggi, dan bertanggung jawab. Orang yang memiliki kelebihan seperti itu akan diikuti oleh mereka yang dipimpinnya dengan tulus pula.

Ketulusan seorang pemimpin tidak cukup diucapkan atau dinyatakan, melainkan harus dibuktikan dalam perilaku sehari-hari. Seorang pemimpin menyebut dirinya tulus, memiliki integritas, dan bertanggung jawab, tetapi jika perilakunya tidak menggambarkan sebagaimana yang dinyatakan, maka tidak akan dipercaya. Orang-orang yang dipimpin biasanya memiliki ketajaman dalam melihat, mendengar, dan bahkan merasakan perilaku pemimpinnya.

Siapapun dalam memahami seseorang, tidak terkecuali terhadap para pemimpinnya, biasanya tidak saja lewat ucapannya, tetapi juga dari perbuatan, wajah, dan bahkan hingga gerak tubuhnya. Bahkan, juga bisa dengan kekuatan mata hatinya. Kepura-puraan, yaitu berpura-pura tulus, berpura-pura sibuk, berpura-pura bertanggung jawab, sebenarnya tidak mudah disembunyikan. Pemimpin yang kaya kepura-puraan, biasanya tidak akan berhasil menunaikan tugas utamanya, yaitu menghidupkan hati, pikiran, dan semangat mereka yang dipimpinnya.

Sebaliknya, sebagaimana disebutkan di muka, pemimpin yang mampu menunjukkan ketulusannya, tanggung jawab, dan integritasnya, maka perkataannya akan didengarkan, perbuatannya akan ditiru, dan perintahnya akan diikuti. Maka sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, pemimpin harus memiliki sifat siddiq, amanah, tableq, dan fathonah. Itulah sebabnya, seorang pemimpin harvs lebih kuat dibanding mereka yang dipimpinnya. Kelebihan kekuatan yang dimaksudkan itu, bukan sebatas hal yang bersifat fisik atau jasmani, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kekuatan ruhaninya.

Para pemimpin pada zaman dahulu untuk menambah kekuatannya, mereka berani bertirakat dengan berpuasa, mengurangi tidur, makan, dan minum. Tatkala rakyatnya tidur, pemimpinnya justru berjaga, tatkala rakyatnya kenyang, mereka berani menahan lapar. Rupanya, di zaman modern seperti sekarang ini yang banyak terjadi justru sebaliknya, yaitu rakyatnya lapar, pemimpinnya justru kekenyangan dan bahkan hidup berlebih-lebihan. Pemimpijn yang demikian itu akan melahirkan kehidupan masyarakat yang tidak stabil, kaya masalah, dan miskin makna dalam menjalani kehidupan.

Manakala pemimpin berhasil membuktikan ketulusan, tanggung jawab, dan integritasnya, maka tugas-tugas kepemimpjnannya akan sangat mudah dijalankan. Tugas pemimpin yakni di antaranya adalah menghidupkan, maka akan tercapai dengan sendirinya. Mereka yang dipimpin akan berusaha menjalankan tugas-tugasnya secara maksimal, menunjukkan rasa tangggung jawab, dan bahkan akan mencintai pimpinannya. Manakala keadaan itu telah tercipta, maka organisasi atau masyarakat yang dipimpin akan hidup dan berhasil menunaikan misi yang ingin diraihnya.

Penggerak perilaku manusia berada pada hati. Maka, kekuatan untuk menghidupkan dan menggerakkan juga berada pada hati yang tulus, bersih, dan sehat yang dimiliki oleh pemimpinnya. Namun, pada akhir-akhir ini, tidak sedikit orang di dalam menjalankan kepemimpinan terlalu mengedepankan akalnya. Bahkan, pendekatan transaksional pun dilakukan. Padahal, melalui cara tersebut masalah yang sebenarnya tidak akan terselesaikan. Sebaliknya, melalui cara sederhana, yaitu dengan hati yang tulus, bertanggung jawab, berintegritas, dan sanggup mencintai semuanya, maka pemimpin akan berhasil menunaikan tugasnya, yaitu menghidupkan, menggerakkan, dan mengarahkan mereka yang dipimpinnya. Wallahu a’lam 

Semoga bermanfaat, karena kita (para pembaca) calon-calon pemimpin masa depan.
Artikel ini adalah pesan Alm. KH. Achmad Zarnoeji kepada sang Cucu... "R A Z"

0 komentar:

Posting Komentar