Jika
tugas pemimpin itu di antaranya adalah menghidupkan, maka pemimpin itu sendiri
harus memiliki kekuatan lebih dibanding mereka yang sedang dipimpinnya. Tanpa
kelebihan yang ada pada dirinya, maka tidak akan mungkin berhasil menunaikan
tugas kepemimpinannya. Tugas menghidupkan maka dirinya sendiri harus hidup
terlebih dahulu.
Pemimpin
dituntut mampu menghidupkan pikiran atau nalar orang yang sedang dipimpinnya,
menghidupkan hati, semangat dan atau kemauannya. Pekerjaan itu kadang mudah,
akan tetapi kadang juga amat sulit. Disebut mudah manakala pemimpin itu
diketahui memiliki ketulusan, integritas yang tinggi, dan bertanggung jawab.
Orang yang memiliki kelebihan seperti itu akan diikuti oleh mereka yang
dipimpinnya dengan tulus pula.
Ketulusan
seorang pemimpin tidak cukup diucapkan atau dinyatakan, melainkan harus
dibuktikan dalam perilaku sehari-hari. Seorang pemimpin menyebut dirinya tulus,
memiliki integritas, dan bertanggung jawab, tetapi jika perilakunya tidak
menggambarkan sebagaimana yang dinyatakan, maka tidak akan dipercaya.
Orang-orang yang dipimpin biasanya memiliki ketajaman dalam melihat, mendengar,
dan bahkan merasakan perilaku pemimpinnya.
Siapapun
dalam memahami seseorang, tidak terkecuali terhadap para pemimpinnya, biasanya
tidak saja lewat ucapannya, tetapi juga dari perbuatan, wajah, dan bahkan
hingga gerak tubuhnya. Bahkan, juga bisa dengan kekuatan mata hatinya.
Kepura-puraan, yaitu berpura-pura tulus, berpura-pura sibuk, berpura-pura
bertanggung jawab, sebenarnya tidak mudah disembunyikan. Pemimpin yang kaya
kepura-puraan, biasanya tidak akan berhasil menunaikan tugas utamanya, yaitu
menghidupkan hati, pikiran, dan semangat mereka yang dipimpinnya.
Sebaliknya,
sebagaimana disebutkan di muka, pemimpin yang mampu menunjukkan ketulusannya,
tanggung jawab, dan integritasnya, maka perkataannya akan didengarkan,
perbuatannya akan ditiru, dan perintahnya akan diikuti. Maka sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah, pemimpin harus memiliki sifat siddiq, amanah,
tableq, dan fathonah. Itulah sebabnya, seorang pemimpin harvs lebih kuat
dibanding mereka yang dipimpinnya. Kelebihan kekuatan yang dimaksudkan itu,
bukan sebatas hal yang bersifat fisik atau jasmani, tetapi yang lebih penting
dari itu adalah kekuatan ruhaninya.
Para
pemimpin pada zaman dahulu untuk menambah kekuatannya, mereka berani bertirakat
dengan berpuasa, mengurangi tidur, makan, dan minum. Tatkala rakyatnya tidur,
pemimpinnya justru berjaga, tatkala rakyatnya kenyang, mereka berani menahan
lapar. Rupanya, di zaman modern seperti sekarang ini yang banyak terjadi justru
sebaliknya, yaitu rakyatnya lapar, pemimpinnya justru kekenyangan dan bahkan
hidup berlebih-lebihan. Pemimpijn yang demikian itu akan melahirkan kehidupan
masyarakat yang tidak stabil, kaya masalah, dan miskin makna dalam menjalani
kehidupan.
Manakala
pemimpin berhasil membuktikan ketulusan, tanggung jawab, dan integritasnya,
maka tugas-tugas kepemimpjnannya akan sangat mudah dijalankan. Tugas pemimpin
yakni di antaranya adalah menghidupkan, maka akan tercapai dengan sendirinya.
Mereka yang dipimpin akan berusaha menjalankan tugas-tugasnya secara maksimal,
menunjukkan rasa tangggung jawab, dan bahkan akan mencintai pimpinannya.
Manakala keadaan itu telah tercipta, maka organisasi atau masyarakat yang
dipimpin akan hidup dan berhasil menunaikan misi yang ingin diraihnya.
Penggerak
perilaku manusia berada pada hati. Maka, kekuatan untuk menghidupkan dan
menggerakkan juga berada pada hati yang tulus, bersih, dan sehat yang dimiliki
oleh pemimpinnya. Namun, pada akhir-akhir ini, tidak sedikit orang di dalam
menjalankan kepemimpinan terlalu mengedepankan akalnya. Bahkan, pendekatan
transaksional pun dilakukan. Padahal, melalui cara tersebut masalah yang
sebenarnya tidak akan terselesaikan. Sebaliknya, melalui cara sederhana, yaitu
dengan hati yang tulus, bertanggung jawab, berintegritas, dan sanggup mencintai
semuanya, maka pemimpin akan berhasil menunaikan tugasnya, yaitu menghidupkan,
menggerakkan, dan mengarahkan mereka yang dipimpinnya. Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat, karena kita (para pembaca) calon-calon pemimpin masa depan.
Artikel ini adalah pesan Alm. KH. Achmad Zarnoeji kepada sang Cucu... "R A Z"







0 komentar:
Posting Komentar