Kamis, 19 November 2015

Andaikan Aku bukan Kader PMII

"DAN TERNYATA CINTA"

Sepenggal syair yang sengaja di kutip dari pelantun group Band papan atas PADI kiranya menjadikan spirit libido naluri gerakanku untuk tetap bertahan di organisasi yang terus terang belum memberikan sesuatu
apapun kecuali motivasi keberanian dalam hal apapun. Meski dilain hal masih banyak orang beranggapan PMII merupakan ladang penuh barokah karena masih memiliki titah Organisasi Islam terbesar di dunia yaitu Nahdlatul Ulama’(NU) yang merupakan lumbung lahirnya Ulama-ulama besar (@Khujjah NU)
Dalam proses kontemplasi ini masih ku pertanyakan mengapa aku masih tertahan disini (@Khalifah 2013). dalam proses perjalanan selanjutnya aku berusaha menanamkan benih cinta dan memaknainya, melelui membaca yang karena proses penyadaran di PMII untuk selalu mencari tahu dan karena itu fitrah manusia (@Ach.Dhofir.Zuhry – para Nabi dalam botol Anggur). Akhirnya kutemukan semua.
“ Dan ternyata Cinta “! …. Cinta itu bukan bagian dari struktur rasio. Cinta itu bagian Non-rasional dalam fakultas manusia. Cintalah yang membuat para tentara Jepang melakukan harakiri, dengan menabrakan pesawatnya ke Pearl Harbour, dalam perang dunia ke dua. Cintalah yang membuat orang bangga berkata: right or wrong it’s my country. Cinatalah yang membuat Adam dan Hawa menjadi Khalifah Fil Ard, Begitupun Romeo dan Juliet menjadi legeda. Bahkan, cintalah yang membuat semesta realitas menjelma. Cinta itu sesuatu yang tidak mungkin diungkapkan, karena sejatinya tidak perlu diungkapkan. Cukup dirasakan,cukup dinikmati, cukup diratapi.
“Dan Ternyata Cinta”. . . Cinta itu adalah memberi bukan menerima, (@Erich Fromm). Kata-kata itu begitu dalam maknanya. Memberi itu membuat seseorang aktif, dinamis dan sekaligus menunjukan eksistensinya. Rasul kita Muhammad mengajarkan, tangan datas lebih baik dari pada tangan di bawah, karena tangan di atas itu memberi sementara tangan di bawah itu menerima. Memeberi sebenarnya adalah tindakan penyatuan. Dan ituulah esensi dari cinta : mengatasi rasa keterasingan dan keterpisahan. Cintalah yang membuat kita tidak sendiri, meski menurut (@Chairil Anwar) hidup adalah kesunyian nasib masing-masing.
Dalam mitologi Yunani kita bisa menemukan sebuah legenda tentang manusia. Konon, manusia pada awalnya adalah mahluk yang maha gagah. Dia mempunyai empat mata, dua mulut, empat tangan empat kaki, dengan satu wajah. Karena kekuatan manusia yang tak tertandingi itu para dewa cemburu dan akhirnya mereka membuat konspirasi untuk menghancurkan manusia. Dalam sebuah pertarungan akhirnya manusia kalah, tubuhnya terbelah dua. Semenjak tubuhnya terbelah dua ini, kekuatannya menjadi hilang. Satu bagian menajadi laki-laki dan satu bagian menajdi perempuan. Kedua bagian tubuh itu senantiasa ditakdirkn untuk terpisah selamanya. Namun satu sama lainnya terus saja mencari untuk pada momen-momen tertentu menyatu (@Scorates). Tentunnya yang menyatukan mereka adalah (Cinta), semacam hasrat penyatuan dan hasrat mengatasi kesendirian. Pada saat momen-momen penyatuan oleh cinta itulah manusia mendapatkan kembali kekuatannya sebegaimana sebelum di belah (dipisahkan) oleh para dewa. Itulah kenapa manusia bisa mendaki gunung tertinggi, mengarungi samudara yang tak terpermanai, melakuan hal-hal yang sepertinya mustahil.(@Rumi – Tentang Cinta).
Dalam karyanya, Fromm pernah mengemukakan dua modus eksistesi dalam cinta. Cinta itu ada yang bersifat “memiliki” (to have) dan ada yang “menjadi” (to be). Modus relasi dalam cinta yang memiliki itu seperti ralasi dua benda, atau subjek dengan benda. Polanya: “saya” (i) dan “sesuatau” (it). Kata-kata dalam kehidupan kita sebagian besar mencerminkan hal tersebut: “saya punya pacar” ; “pacar gue” ;  “cewe gue” dan lain-lain. Hubungan antara manusia dengan manusia lain telah, meminjam istilah kaum (Marxsis), terbendakan. Kekasih telah, dengan tanpa sadar tentunya, diposisikan seperti “kepunyaan” yang bisa kita miliki. Di miliki artinya bisa dikuasai. Yang dikuasai biasanya memberikan apa yang menjadi miliknya dengan, bukan karena keikhlasan, terpaksa. Penguasa cenrung ingin diberi, dihargai, dilayani. Kekasih telah turun derajatnya menjadi benda. Cinta ini ciri utamanya adalah menerima, atau diberi.
Seharusnya cinta itu memberi, (bukan diberi). Dalam cinta yang seperti ini, pola interaksinya adalah: “aku” dan “kamu”  (bukan) “aku” dan “sesuatu”. Dalam pola seperti ini, kita memposisikan masing-masing pasangan sebagai manusia yang punya keinginan, punya otonomi dan kemandirian, punya ego. Karena itu dalam pola yang seperti ini pasangan duduk sama tinggi dan saling menghormati. Dalam pola seperti ini, tak ada keinginan salah satu harus menjadi apa yang diinginkan oleh yang lain. Kedunya harus menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi apa yang diinginkan pasangannya. Karena itu cinta seperti ini adalah cinta yang “menjadi”.Satu model cinta yang dinamis dan senantiasa dibentuk dalam perjalanan.Berdialektika menaiki tangga tanpa henti.Berproses untuk semakin dewasa, semakin mawas diri, semakin arif, semakin militan dan lain-lain.
Dan seharunya cinta di PMII ini adalah cinta “(memberi)”. Karena itu pulalah orang bijak berkata : jangan kau tanya apa yang telah kau dapatkan dari bangsamu, tapi bertanyalah apa yang telah kau berikan buat bengsamu itu (@Abraham Lincoln). Kalau ada seorang kader yang masih berpikir dirinya tidak mendapatkan apa-apa dari PMII, maka kader tersebut belumlah menghayati bagaimana seharusnya dia hidup di PMII. PMII tidak bisa memberikan apa-apa. Kita yang harus memberi, karena menurut (Fromm), ketika kita memberi, maka kita menerima. Dan “Menerima adalah konsekuensi logis dari tindakan memberi”.
  Rifqan Achmad Zarnoeji

0 komentar:

Posting Komentar