Sepenggal syair
yang sengaja di kutip dari pelantun group Band papan atas PADI kiranya
menjadikan spirit libido naluri gerakanku untuk tetap bertahan di organisasi
yang terus terang belum memberikan sesuatu
apapun kecuali motivasi keberanian
dalam hal apapun. Meski dilain hal masih banyak
orang beranggapan PMII merupakan ladang penuh barokah karena masih memiliki
titah Organisasi Islam terbesar di dunia yaitu Nahdlatul Ulama’(NU)
yang merupakan lumbung lahirnya Ulama-ulama besar (@Khujjah NU)
Dalam proses kontemplasi ini masih ku pertanyakan mengapa
aku masih tertahan disini (@Khalifah 2013). dalam
proses perjalanan selanjutnya aku berusaha menanamkan benih cinta dan
memaknainya, melelui membaca yang karena proses penyadaran di PMII untuk selalu
mencari tahu dan karena itu fitrah manusia (@Ach.Dhofir.Zuhry – para Nabi dalam botol
Anggur). Akhirnya kutemukan
semua.
“ Dan ternyata Cinta “! …. Cinta itu bukan bagian dari
struktur rasio. Cinta itu bagian Non-rasional dalam
fakultas manusia. Cintalah yang membuat para tentara Jepang melakukan harakiri,
dengan menabrakan pesawatnya ke Pearl Harbour, dalam perang dunia ke dua.
Cintalah yang membuat orang bangga berkata: right
or wrong it’s my country. Cinatalah yang membuat Adam dan Hawa
menjadi Khalifah Fil Ard, Begitupun Romeo dan Juliet
menjadi legeda. Bahkan, cintalah yang membuat semesta realitas menjelma. Cinta itu
sesuatu yang tidak mungkin diungkapkan, karena sejatinya tidak perlu diungkapkan. Cukup
dirasakan,cukup dinikmati, cukup diratapi.
“Dan Ternyata
Cinta”. . . Cinta itu adalah memberi bukan menerima, (@Erich
Fromm). Kata-kata itu begitu dalam maknanya. Memberi
itu membuat seseorang aktif, dinamis dan sekaligus menunjukan eksistensinya. Rasul
kita Muhammad mengajarkan, tangan datas lebih baik dari pada tangan
di bawah, karena tangan di atas itu memberi sementara tangan di bawah itu
menerima. Memeberi sebenarnya adalah tindakan penyatuan. Dan ituulah
esensi dari cinta : mengatasi rasa keterasingan dan keterpisahan. Cintalah yang
membuat kita tidak sendiri, meski menurut (@Chairil Anwar) hidup
adalah kesunyian nasib masing-masing.
Dalam mitologi
Yunani kita bisa menemukan sebuah legenda tentang manusia. Konon, manusia pada awalnya adalah mahluk
yang maha gagah. Dia mempunyai empat
mata, dua mulut, empat tangan empat kaki, dengan satu wajah. Karena kekuatan manusia yang tak
tertandingi itu para dewa cemburu dan akhirnya mereka membuat konspirasi untuk
menghancurkan manusia. Dalam
sebuah pertarungan akhirnya
manusia kalah, tubuhnya terbelah dua. Semenjak
tubuhnya terbelah dua ini, kekuatannya menjadi hilang. Satu bagian menajadi laki-laki dan satu bagian menajdi perempuan. Kedua bagian tubuh itu senantiasa ditakdirkn
untuk terpisah selamanya. Namun satu
sama lainnya terus saja mencari untuk pada momen-momen tertentu menyatu (@Scorates). Tentunnya yang
menyatukan mereka adalah (Cinta),
semacam hasrat penyatuan dan hasrat mengatasi kesendirian. Pada saat momen-momen penyatuan oleh cinta
itulah manusia mendapatkan kembali kekuatannya sebegaimana sebelum di belah
(dipisahkan) oleh para dewa. Itulah
kenapa manusia bisa mendaki gunung tertinggi, mengarungi samudara yang tak
terpermanai, melakuan hal-hal yang sepertinya mustahil.(@Rumi – Tentang Cinta).
Dalam karyanya,
Fromm pernah mengemukakan dua
modus eksistesi dalam cinta. Cinta
itu ada yang bersifat “memiliki” (to have) dan ada yang “menjadi” (to be). Modus
relasi dalam cinta yang memiliki itu seperti ralasi dua benda, atau subjek
dengan benda. Polanya: “saya” (i) dan “sesuatau” (it). Kata-kata dalam
kehidupan kita sebagian besar mencerminkan hal tersebut: “saya punya pacar” ; “pacar gue” ; “cewe gue” dan lain-lain. Hubungan antara
manusia dengan manusia lain telah, meminjam istilah kaum (Marxsis), terbendakan. Kekasih telah, dengan tanpa sadar tentunya, diposisikan seperti “kepunyaan” yang bisa
kita miliki. Di miliki artinya bisa
dikuasai. Yang dikuasai biasanya memberikan apa yang menjadi miliknya dengan, bukan karena keikhlasan, terpaksa.
Penguasa cenrung ingin diberi, dihargai, dilayani. Kekasih telah turun derajatnya menjadi benda. Cinta ini ciri utamanya adalah “menerima”, atau diberi.
Seharusnya
cinta itu memberi, (bukan
diberi). Dalam cinta yang
seperti ini, pola interaksinya adalah: “aku” dan “kamu” (bukan) “aku” dan “sesuatu”. Dalam pola
seperti ini, kita memposisikan masing-masing pasangan sebagai manusia yang
punya keinginan, punya otonomi dan
kemandirian, punya ego. Karena itu dalam pola yang seperti ini pasangan duduk
sama tinggi dan saling menghormati. Dalam pola seperti ini, tak ada keinginan
salah satu harus menjadi apa yang diinginkan oleh yang lain. Kedunya harus
menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi apa yang diinginkan pasangannya. Karena
itu cinta seperti ini adalah cinta yang “menjadi”.Satu model cinta yang dinamis
dan senantiasa dibentuk dalam perjalanan.Berdialektika menaiki tangga tanpa
henti.Berproses untuk semakin dewasa, semakin mawas diri, semakin arif, semakin
militan dan lain-lain.
Dan seharunya
cinta di PMII ini adalah cinta “(memberi)”. Karena itu pulalah orang bijak berkata : jangan kau tanya apa yang telah kau dapatkan dari
bangsamu, tapi bertanyalah
apa yang telah kau berikan buat bengsamu itu (@Abraham Lincoln). Kalau
ada seorang kader yang masih berpikir dirinya tidak mendapatkan apa-apa dari
PMII, maka kader tersebut belumlah menghayati bagaimana seharusnya dia hidup di
PMII. PMII tidak bisa memberikan
apa-apa. Kita yang harus memberi,
karena menurut (Fromm), ketika kita memberi, maka kita
menerima. Dan “Menerima
adalah konsekuensi logis dari tindakan memberi”..
Rifqan Achmad Zarnoeji






0 komentar:
Posting Komentar